SIDOARJO – Ada pemandangan yang berbeda di lingkungan MIN 2 Sidoarjo sepanjang bulan suci Ramadhan ini. Jika biasanya kegiatan keagamaan lebih banyak difokuskan pada peserta didik, kali ini Kepala Madrasah, Bapak Mashurin, menginisiasi sebuah gerakan spiritualitas yang menyasar seluruh elemen sekolah, mulai dari guru hingga staf karyawan.

Agenda khusus berupa Kultum (Kuliah Tujuh Menit) ini menjadi menu wajib harian. Menariknya, Bapak Mashurin tidak hanya menyampaikan pesan religius kepada siswa usai pelaksanaan shalat Dhuha berjamaah di pagi hari, namun juga menyediakan waktu khusus bagi para “pahlawan tanpa tanda jasa” di madrasah tersebut untuk duduk bersama dan menyimak tausiyah.
Kegiatan ini lahir dari kesadaran bahwa guru dan staf adalah garda terdepan dalam membentuk karakter siswa. Oleh karena itu, kondisi spiritual mereka harus tetap terjaga di tengah kesibukan administrasi dan proses belajar mengajar.

“Guru adalah teladan. Sebelum memberikan energi positif kepada siswa, maka ‘tangki’ spiritual gurunya harus diisi terlebih dahulu,” ungkap salah satu staf yang mengikuti kegiatan tersebut.
Sesi kultum bagi guru dan karyawan ini menciptakan atmosfer kerja yang lebih religius sekaligus kekeluargaan. Beberapa poin menarik dari agenda ini antara lain:

Guru dan staf mendapatkan jadwal khusus sehingga tidak mengganggu jam mengajar namun tetap mendapatkan hak “nutrisi batin”.

Materi yang disampaikan Bapak Mashurin tidak hanya soal fiqih puasa, tetapi juga tentang etos kerja sebagai ibadah, kesabaran dalam mendidik, dan pentingnya ikhlas dalam melayani masyarakat.

Tak jarang, sesi ini menjadi ruang diskusi ringan yang mempererat hubungan antara warga MIN 2 Sidoarjo.
Langkah yang diambil MIN 2 Sidoarjo ini membuktikan bahwa pendidikan karakter di madrasah tidak hanya berjalan satu arah. Dengan melibatkan guru dan staf dalam agenda kultum, MIN 2 Sidoarjo sedang membangun sebuah ekosistem pendidikan di mana setiap orang di dalamnya adalah pembelajar.

Melalui siraman rohani yang konsisten, diharapkan seluruh staf dan pengajar dapat menjalani Ramadhan dengan produktivitas tinggi namun tetap terjaga kesalehan spiritualnya. Sebuah langkah kecil yang membawa dampak besar bagi kualitas pendidikan di Sidoarjo.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *